Acara ini menyediakan 60 tempat duduk bagi anak-anak pengungsi korban bencana Palu, Donggala, dan Sigi. Selain itu, ada penggalangan donasi bagi para korban yang diberikan secara tunai maupun nontunai.

Makassar International Eight Festival and Forum 2018. (INT)

Makassar International Eight Festival and Forum 2018. (INT)

Sukses Mengangkat Budaya Lokal

INSAN NEWS, MAKASSAR - Acara Calender of Event (CoE) Makassar International Eight Festival and Forum 2018 (F8) menggalang solidaritas dan dana bagi korban bencana alam di Palu, Donggala, dan Sigi.

"Solidaritas kemanusiaan, persahabatan, dan kemeriahan melebur menjadi satu di F8. Kami berharap ada semangat baru yang dibawa pengunjung dari F8. Sebab, inspirasi yang ditiupkan sangat kuat," kata Menteri Pariwisata Arief Yahya, Jumat (12/10/2018).

Acara yang berlangsung pada 10-14 Oktober 2018 itu mengusung tema Dari Makassar, Palu Bangkit. Makassar sendiri menyediakan tempat penampungan bagi 15 ribu korban bencana Palu, Donggala, dan Sigi.

Acara F8 kali ini dikunjungi sekitar 50 bupati/walikota se-Indonesia. Selain itu, beberapa negara juga mengirimkan dutanya, di antaranya Australia, Jerman, Filipina, Swiss, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, hingga Prancis.

Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Esthy Reko Astuti, menyebut bahwa F8 bisa menjadi model bagi acara lainnya.

"F8 mampu bangkitkan semangat. Dari Makassar, Palu bangkit bersama-sama. Dan F8 ini luar biasa. Baru digelar 2 kali tapi sudah masuk Calendar of Event," katanya.

Acara itu juga dinilai sukses mengangkat budaya lokal seperti kolaborasi Tari Gandrang Bulo dengan Tari Padduppa. Tarian ini dibawakan secara massal oleh 200 pelajar di Makassar.

Sembari menari, para pelajar pun membawakan nyanyian khas Makassar 'Cincing Banca'. Tampilan budaya lokal juga dikuatkan dengan Tari Empat Etnis Modern oleh 400 penari. Tarian ini menggambarkan kekayaan Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar. 

Penari memakai Baju Bodo khas Bugis-Makassar, lalu rambutnya ditata ala Toraja. Mereka juga lengkap membawa kain sutera. Lebih membanggakan lagi, F8 juga membagi panggungnya untuk kreativitas kaum difabel.

"Sesuai konsep dasar, F8 ini sangat unik. Ada banyak pilihan dengan konsep jelas yang bisa dinikmati oleh pengunjung. Festival ini menjadi etalase terbaik budaya lokal. Ini tentu magnet kuat untuk menarik jumlah kunjungan wisatawan," kata Asisten Deputi Bidang Pemasaran I Regional III Kemenpar, Ricky Fauzi.

Sementara itu dari sisi hiburan lainnya, kehadiran penyanyi Once Mekel menjadi penyempurna rangkaian panjang pembukaan F8 yang digelar pada Rabu lalu di Pantai Losari.

Dengan gaya enerjik, penyanyi 48 tahun ini membawakan sepuluh tembang. Di antaranya adalah lagu Kini Saatnya jadi pembuka, dilanjutkan dengan Arjuna dan Aku Mau.

"F8 ini besar. Rasa simpatinya luar biasa. Mereka memberikan perhatian lebih bagi para korban bencana di Palu, Donggala, dan Sigi. Sudah seharusnya mereka dihibur. Semoga para korban secepatnya dipulihkan," ungkap Once.

Mengusung tema 'Celebration in Diversity', pengunjung F8 juga semakin dibius oleh lagu Symphony Yang Indah. Once juga memberikan kejutan melalui lagu Dealova  versi akustik. Demikian dikutip dari CNN Indonesia. (***)

REAKSI ANDA?



Percakapan Facebook