Jamaluddin S. TP

InsanNews.co.id - Baru setahun yg lalu Kota Makassar menggelar Pilwalkot dengan Hasil yang mengejutkan karena baru kali ini ada pemilu di Indonesia yang 'dimenangkan' kotak kosong. Selisihnya pun cukup signifikan yaitu sekitar 6℅ suara. 

Kotak kosong sesungguhnya hanya istilah umum dalam kontestasi pemilu karena aturan sebenarnya yang dipilih bukan kotak kosong tapi hanya satu pasangan calon saja dan disiapkan dua kolom yakni setuju dengan tidak setuju. Dalam hal ini, Hasil pemilu kemudian Mejadi fakta hukum bahwa pasangan calon yang notabene diusung oleh 10 parpol tidak direstui secara konstitusional  untuk menahkodai Kota Makassar. 

Pilwalkot Makassar selalu menarik didiskusikan mengingat Kota Angin mamiri tersebut tidak hanya dikenal sebagai Ibukota Provinsi Sulsel tapi juga oleh berbagai kalangan di anggap sebagai Ibukotanya Indonesia Timur karena Letaknya yg sangat strategis sebagai pintu Gerbang lalu lintas perdangan Indonesia Timur dan sebagai Growth centre pembanguan kawasan timur Indonesia. 

... 

Kegagalan Paslon Appi-Cicu sekaligus membuka asa bagi matan walikota Danny Pomanto untuk kembali berkompetisi,  setelah sebelumnya didiskualifikasi sebagai Paslon karena melanggar tata cara dan mekanisme bersosialisasi kaitannya sebagai Petahana. Pilwalkot Makassar akan digelar kembali pada pilkada serentak bulan September tahun 2020.

Yang paling menarik setelah peristiwa ini adalah munculnya beberapa figur alternatif yang di didorong oleh berbagai faksi atau elemen-elemen masyarakat dari berbagai latar belakang politik,  suku, dan korporasi. 

Dalam kontestasi Pilkada, stidaknya ada 4 kekuatan yang selalu dominan mewarnai percaturan politik lokal tersebut. Pertama; Kekuatan Politik atau dominasi Parpol tertentu dengan memanfaatkan instrument kekuasaan atau birokrasi. Kedua; Kekuatan Ekonomi  atau Korporasi yang mengakar di daerah tersebut dan atau korporasi luar yang menjadi cukong atas kepentingan tertentu. Ketiga; Kekuatan Primordialisme atau dominasi suku tertentu dalam suatu daerah karena besaran populasi ataupun karena pengaruh Peodalosme. Keempat; Kekuatan Sosial atau Modal sosial figur tertentu yang didapat dari proses aktivisme dalam waktu yg cukup lama. 

Dari keempat kekuatan tersebut,  dalam konteks Pilwalkot makassar yang karakteristik pemilihnya relatif berbeda dgn daerah lain di Sulsel,  saya menilai bahwa hanya kekuatan politik dan kekuatan ekonomi yang paling dominan mempengaruhi kontestasi kekuasaan. Dua kekuatan yang lain hanya menjadi bumbu percaturan politik di  Makassar. 

Hal ini terkonfirmasi dengan kemenangan pasangan calon Danny Pomanto dan Deng ical pada Pilwalkot Tahun 2013 lalu. Danny dan ical secara primordial bukanlah dari suku yang dianggap dominan di sulsel. Keduanya juga belum termasuk kategori figur yang secara sosial memiliki modal yang cukup di banding dengan Tokoh-Tokoh lain yang berpengaruh di Makassar. 

Maka dalam hal ini, percaturan politik pada Pilwalkot Makassar Tahun 2020 sangat besar kemungkinan akan di dominasi oleh 2 kekuatan tersebut diatas. Hal lain yang juga sangat berpengaruh adalah perubahan kompigurasi politik karena perolehan suara (Kursi) Partai politik pasca Pilcaleg dan perubahan Konstelasi politik di tingkat elit lokal dan nasional pasca Pilpres. 

Berbagai spekulasi menyatakan bahwa kemungkinan besar pertarungan untuk memperebutkan orang nomor satu dan dua di Kota Daeng akan mengerucut pada Figur Mantan Wali, Mantan Wawali dan Mantan Paslon yakni Appi-Cicu. Dan kemungkinan akan memunculkan Figur alternatif pasca perubahan konfigurasi politik parpol dan perubahan konstelasi elit politik pasca Pilpres. 

Merujuk pada analisis kekuatan politik diatas serta perubahan konstelasi dan konfigurasi politik pasca Pemilu, maka saya menilai ada dua figur yang sangat memenuhi prasyarat tersebut yakni Andi Idris Manggabarani dan Sukriansyah S Latif. 

Andi Idris Manggabarani atau yang akrab di sapa IMB,  bukanlah orang baru di percaturan politik Makassar.  Putra mantan Bupati Polman dan adik mantan wakapolri Yusuf Manggabarani ini adalah Mantan Paslon Pada Pilwalkot Makassar tahun 2008 lalu dan Finish diurutan Kedua dengan perolehan suara diatas 16℅. Beliau juga merupakan Ketua DPD Partai Gerindra Sulawesi Selatan serta Pendiri dan Pemilik Perusahan Besar IMB Group. Sebelumnya Ia pernah memimpin Asosiasi Deplover yakni Real State Indonesia Sulawesi Selatan. 

Sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel dan Pengusaha Sukses di bawah Bendera IMB Grup,  Jelas dua kekuatan berpengaruh sudah dimilikinya yakni kekuatan politik dan kekuatan ekonomi. Ditambah dengan bumbu kekuatan primordial simbol kharismatik lokal yakni Nama Besar Manggabarani. 

Sukriansyah S Latif adalah Figur yang belakangan muncul jadi buah bibir karena namanya dikaitkan dengan Salah satu tokoh nasional dari Sulsel yang sekarang menjabat sebagai Menteri Pertanian  yakni Andi Amran Sulaeman. Wajar saja karena beliau merupakan Staf Khusus dan salah satu Orang yang paling dekat dengan Pak Mentri sejak dulu. beliau juga merupakan mantan Jurnalis Senior yg sdh di kenal oleh banyak kalangan di makassar. 

Dengan demikan Figur yang satu ini tidak bisa di pandang sebelah mata karena andai betul Ia di plot oleh Faksi Pak Mentan maka dengan sendirinya Syarat dua kekuatan berpengaruh tersebut telah Ia penuhi. 

Yang ngeri-ngeri sedap jika kedua Figur ini menyatu menjadi IMB-SSL. Maka iya akan muncul menjadi Poros Alternatif yang mengkolaborasikan Dua kutub Kekuatan besar yakni simbol kekuatan Politik penguasa dan simbol kekuatan politik Oposisi.

Hal ini mungkin saja terjadi mengingat konstelasi politik pilkada cendrung cair atau tidak berkorelasi positif dengan pragmemtasi politik nasional yang sampai sekarang belum move on. Hal lain yg membuat skenario ini realistis adalah adanya elit politik Gerindra yang merupakan Anak dan Menantu pemilik Fajar Grup yang selama ini menjadi tempat SSL meniti Karir. 

JAMALUDDIN, S. TP (Direktur Eksekutif JAIKA Consultant)

REAKSI ANDA?



Percakapan Facebook